Sabtu, 28 Desember 2013

Guruku yang terakhir adalah seorang yang majdzub (gila TUHAN)

Akan kuceritakan sedikit tentang guruku yang terakhir. Saya sendiri sdh berguru kepada beberapa guru selama belasan tahun sambil melakukan aktifitas lain, dalam artian berguru lepas tidak mondok.......

Guruku yang terakhir adalah seorang yang majdzub (gila TUHAN), dimana dia hidup dialam bebas dan tidak bertempat tinggal sampai sekarang, entah ada dimana. Jauh dari orang2 yang masih saja sibuk dengan perkara duniawi, maka dia sudah totalitas dan siap mati kelaparan sama sekali. Rambutnya sangat panjang, namun disembunyikan, jika terurai sampai kakinya panjangnya.......

Yang ajaib darinya adalah daya tahannya, karena sering 2-3 hari tidak makan sama sekali kulihat tubuhnya biasa2 saja, tidak lemas. Kulihat dia tidak mandi2, tapi badannya tidak berbau sama sekali. malah ketika hidungku dekat dengan kepalanya, kucium aroma cendana keluar dari rambutnya........

Saat aku bersamanya, yang dilakukannya adalah "MENGOMEL", dia terus saja mengomeliku, sampai membuat telingaku panas. Dan saya masih tetap setia menyediakan telingaku untuk diomelinya. Tidak pernah sama sekali saya membantahnya. Karena adab murid kepada guru, mmng spt itu, saya nrimo saja diomeli, walau suka ataupun tidak suka tetap saya terima........

Terserah dia mau gimana2 saya masa bodoh saja, itu urusannya saya tak mau tau, karena dia sdh terlanjur majdzub (gila TUHAN)........

Pernah suatu hari dia minta pedang kepadaku, krn mau penggal leher orang, dia bilang itu iblis. Karena menghormati syariat, tdk saya kasih, saya tinggal pergi, kutinggal tidur, masa bodoh aja saya, sebab menuruti orang gila ini saya bisa ikut masuk penjara karena bunuh orang........ heuheuheu.

Setelah kami berpisah saya sangat merindukannya. Saya seperti Musa dan dia spt khidir pada waktu itu. Saya masih saja memakai nalar dan akal fikiran dalam memandang tindakan2nya. Orang yang hendak dipenggalnya ternyata kemudian hari menipu uang orang2 dan kabur pergi, bahkan yg ditipunya adalah para kyai2 setempat.......

dia memberiku banyak sekali pelajaran berharga, mutiara yg murni dan indah, walau lewat omelan2nya, ternyata omelannya membuka apa yang masih buntu dan tertutup dalam hatiku tanpa kusadari. Baru jauh kusadari semua itu setelah kami berpisah. Dan aku selalu merindukannya walau entah menghilang kemana sekarang dirinya. dia adalah anak alam, dan kembali hidup dialam bebas, langit adalah atap rumahnya, bumi ini adalah alas tidurnya. aku memandangnya seperti musa yang memandang khidir...... Sungguh, aku seolah2 bersama khidir tatkala bersamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar