Akan
kuceritakan sedikit tentang guruku yang terakhir. Saya sendiri sdh
berguru kepada beberapa guru selama belasan tahun sambil melakukan
aktifitas lain, dalam artian berguru lepas tidak mondok.......
Guruku yang terakhir adalah seorang yang majdzub (gila TUHAN), dimana
dia hidup dialam bebas dan tidak bertempat tinggal sampai sekarang,
entah ada dimana. Jauh dari orang2 yang masih saja sibuk dengan
perkara duniawi, maka dia sudah totalitas dan siap mati kelaparan sama
sekali. Rambutnya sangat panjang, namun disembunyikan, jika terurai
sampai kakinya panjangnya.......
Yang ajaib darinya adalah
daya tahannya, karena sering 2-3 hari tidak makan sama sekali kulihat
tubuhnya biasa2 saja, tidak lemas. Kulihat dia tidak mandi2, tapi
badannya tidak berbau sama sekali. malah ketika hidungku dekat dengan
kepalanya, kucium aroma cendana keluar dari rambutnya........
Saat aku bersamanya, yang dilakukannya adalah "MENGOMEL", dia terus saja
mengomeliku, sampai membuat telingaku panas. Dan saya masih tetap setia
menyediakan telingaku untuk diomelinya. Tidak pernah sama sekali saya
membantahnya. Karena adab murid kepada guru, mmng spt itu, saya nrimo
saja diomeli, walau suka ataupun tidak suka tetap saya terima........
Terserah dia mau gimana2 saya masa bodoh saja, itu urusannya saya tak
mau tau, karena dia sdh terlanjur majdzub (gila TUHAN)........
Pernah suatu hari dia minta pedang kepadaku, krn mau penggal leher
orang, dia bilang itu iblis. Karena menghormati syariat, tdk saya kasih,
saya tinggal pergi, kutinggal tidur, masa bodoh aja saya, sebab
menuruti orang gila ini saya bisa ikut masuk penjara karena bunuh
orang........ heuheuheu.
Setelah kami berpisah saya sangat
merindukannya. Saya seperti Musa dan dia spt khidir pada waktu itu. Saya
masih saja memakai nalar dan akal fikiran dalam memandang tindakan2nya.
Orang yang hendak dipenggalnya ternyata kemudian hari menipu uang
orang2 dan kabur pergi, bahkan yg ditipunya adalah para kyai2
setempat.......
dia memberiku banyak sekali pelajaran
berharga, mutiara yg murni dan indah, walau lewat omelan2nya, ternyata
omelannya membuka apa yang masih buntu dan tertutup dalam hatiku tanpa
kusadari. Baru jauh kusadari semua itu setelah kami berpisah. Dan aku
selalu merindukannya walau entah menghilang kemana sekarang dirinya. dia
adalah anak alam, dan kembali hidup dialam bebas, langit adalah atap
rumahnya, bumi ini adalah alas tidurnya. aku memandangnya seperti musa
yang memandang khidir...... Sungguh, aku seolah2 bersama khidir tatkala
bersamanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar