Beberapa
hari yang lalu saya berkunjung kerumah guru lama saya dahulu, skrng
beliau sdh mursyid thoriqoh qodiriyah naqsabandiah . saya datang untuk
silaturahmi dan minta doa restu darinya. Kami berbincang2, lalu sampai
suatu titik saya menyampaikan bahwa saya skrng punya banyak sekali
murid2 yang mengikuti saya, maka dia kaget dan berkata, "saya kok tidak
bisa lihat jubahmu". Lalu kembali berkata,
"apa yang kamu ajarkan, masih pakai Muhammad apa gak?"...... "iya tentu
saja, karena saru (tabu) pak, jika tdk pakai muhammad seolah melangkahi
kanjeng nabi", jawab saya. "trus kamu mau mandito atau bagaimana?".....
"yah mengalir saja pak, saya nrimo saja apa kehendak Allah, kalau
dipaksakan timbulnya jg nafsu".
Guru lama saya itu sdh tahu,
kalau saya jg prnah berguru dgn guru2 lainnya, maksudnya pakai muhammad
atau tidak, itu disebut sbg "sasmita" atau pesan simbolik atau suatu
bahasa majaz. Dalam dunia "keruhanian", penggunaan sasmita itu lazim,
atau biasa dipakai sbg bhs khusus yg mengandung majaz, hanya bs
ditangkap dgn cepat mrk2 yg "tanggap ing sasmita" (tanggap dgn simbolik2
maknawiah). "pakai muhammad" itu maksudnya pakai jalur syariat atau
tidak. Karena kesufian memang banyak jalur, dan bisa pakai jalur
non-muhammad. "jubah yang tidak kelihatan" itu maksudnya sesuatu hal
kemuliaan yg selalu tertutup rapat tdk diperlihatkan.......
Diakhir2 perbincangan, beliau memberikan doa restunya, dan mengatakan
scr sderhana bhwa dirinya memang perlu kholifah. ucapan itu maksudnya
adalah suatu pelimpahan kpd saya, dlm hak sbg kholifah bagi thoriqoh.
spt diketahui kholifah itu adalah wakil dr seorang mursyid, krn byknya
murid, maka mursyid mulai perlu pendelegasian kpd kholifahnya, bg
kelompok2 kecil murid2, dimana kholifah itu berhak membina dan membai'at
murid menurut kuasa dan sepengetahuan dr mursyidnya.
Saya pulang dgn membawa doa restu, bhkn guru saya malah minta saya doakan, krn tawadhu'nya beliau, jadi kebalik gitu.
Tapi saya kok kurang tertarik menjadi kholifah thoriqoh, saya lebih
tertarik jadi "guru kebodohan" saja spt skrng ini, yg walau tdk pakai
kapal besar (thoriqoh), tp hanya rakit kecil sederhana, namun memiliki
tekat dan semangat yang jauh lebih kuat dan besar dari kapal2
besar........ saya lebih senang spt ini saja.........
Jadi
bagi saudara2 yg hendak berbaiat thoriqoh atau belajar thoriqoh, carilah
saja guru/mursyid lain diluar sana, kalau hendak belajar bodoh, boleh
disini, sanad ilmu saya, hanya sanad bodoh, hanya silsilah bodoh
saja...... yang keberatan ikutan bodoh, boleh mencari guru lain yang
pintar........ tidak ada paksaan.........

Tidak ada komentar:
Posting Komentar