Sabtu, 28 Desember 2013

Beberapa hari yang lalu saya berkunjung kerumah guru lama saya dahulu, skrng beliau sdh mursyid thoriqoh qodiriyah naqsabandiah . saya datang untuk silaturahmi dan minta doa restu darinya

Beberapa hari yang lalu saya berkunjung kerumah guru lama saya dahulu, skrng beliau sdh mursyid thoriqoh qodiriyah naqsabandiah . saya datang untuk silaturahmi dan minta doa restu darinya. Kami berbincang2, lalu sampai suatu titik saya menyampaikan bahwa saya skrng punya banyak sekali murid2 yang mengikuti saya, maka dia kaget dan berkata, "saya kok tidak bisa lihat jubahmu". Lalu kembali berkata, "apa yang kamu ajarkan, masih pakai Muhammad apa gak?"...... "iya tentu saja, karena saru (tabu) pak, jika tdk pakai muhammad seolah melangkahi kanjeng nabi", jawab saya. "trus kamu mau mandito atau bagaimana?"..... "yah mengalir saja pak, saya nrimo saja apa kehendak Allah, kalau dipaksakan timbulnya jg nafsu".

Guru lama saya itu sdh tahu, kalau saya jg prnah berguru dgn guru2 lainnya, maksudnya pakai muhammad atau tidak, itu disebut sbg "sasmita" atau pesan simbolik atau suatu bahasa majaz. Dalam dunia "keruhanian", penggunaan sasmita itu lazim, atau biasa dipakai sbg bhs khusus yg mengandung majaz, hanya bs ditangkap dgn cepat mrk2 yg "tanggap ing sasmita" (tanggap dgn simbolik2 maknawiah). "pakai muhammad" itu maksudnya pakai jalur syariat atau tidak. Karena kesufian memang banyak jalur, dan bisa pakai jalur non-muhammad. "jubah yang tidak kelihatan" itu maksudnya sesuatu hal kemuliaan yg selalu tertutup rapat tdk diperlihatkan.......

Diakhir2 perbincangan, beliau memberikan doa restunya, dan mengatakan scr sderhana bhwa dirinya memang perlu kholifah. ucapan itu maksudnya adalah suatu pelimpahan kpd saya, dlm hak sbg kholifah bagi thoriqoh. spt diketahui kholifah itu adalah wakil dr seorang mursyid, krn byknya murid, maka mursyid mulai perlu pendelegasian kpd kholifahnya, bg kelompok2 kecil murid2, dimana kholifah itu berhak membina dan membai'at murid menurut kuasa dan sepengetahuan dr mursyidnya.

Saya pulang dgn membawa doa restu, bhkn guru saya malah minta saya doakan, krn tawadhu'nya beliau, jadi kebalik gitu.

Tapi saya kok kurang tertarik menjadi kholifah thoriqoh, saya lebih tertarik jadi "guru kebodohan" saja spt skrng ini, yg walau tdk pakai kapal besar (thoriqoh), tp hanya rakit kecil sederhana, namun memiliki tekat dan semangat yang jauh lebih kuat dan besar dari kapal2 besar........ saya lebih senang spt ini saja.........

Jadi bagi saudara2 yg hendak berbaiat thoriqoh atau belajar thoriqoh, carilah saja guru/mursyid lain diluar sana, kalau hendak belajar bodoh, boleh disini, sanad ilmu saya, hanya sanad bodoh, hanya silsilah bodoh saja...... yang keberatan ikutan bodoh, boleh mencari guru lain yang pintar........ tidak ada paksaan.........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar