LANJUTAN SASMITO "KULIT DAN ISI"
=======================
Akan saya kupas lebih jauh lagi......
kulit dan isi itu seperti syariat dan hakekat. seperti tubuh dengan ruh.
Jika hendak menanam padi mesti kulit dan isinya sekaligus, karena kalau
kulitnya dibuang isinya saja ditanam akan busuk tidak mau tumbuh.
namun jika hendak dinikmati mesti buang kulitnya, isinya saja yang dinikmati, jika tidak dibuang kulitnya akan sakit perut karena termakan sekam.
syariat itu umpama kulit, umpama batang tubuh. hakekat itu umpama isi umpama ruhnya.
tubuh itu merupakan "PEMBATAS" dan "PENJARA", dengan tubuh kita TIDAK
MUNGKIN beribadah terus menerus secara langgeng/DAIM. Sholat kebanyakan,
maka kaki akan bengkak, dzikir kelamaan duduk, tubuh akan kesemutan.
Dengan ruh, ibadah itu bs kekal dan langgeng, bs DAIM, karena ruh tak
mengenal kerusakan dan kehancuran, tak mengenal kepayahan dan kesusahan.
Tubuh tanpa ruh akan mati binasa, sebaliknya ruh tanpa tubuh malah akan langgeng tidak mengenal kerusakan lagi.
Maka oleh sebab itulah kita mesti belajar mati sebelum mati. Belajar
memasuki arena Ketuhanan yang lebih jauh lagi, yaitu IBADAH RUH.
awalnya dari ibadah lahiriah/syariat kulit, lalu mulai belajar memasuki arena ibadah ruhaniah yang jauh lebih dalam.
Sampai hari kematian kita tiba, ruh kita terlepas dan bebas dari
penjara, lalu ibadah itu tak lagi terbatasi kemampuannya, Kita bs
selama-lamanya dalam keadaan dzikrullah, selama-lamanya dalam keadaan
sholat, Baqo' billah. Kekal, langgeng dalam ibadah kepada Allah.
Belajar untuk meninggalkan kulit adalah belajar mati sebelum mati,
meninggalkan batang tubuh dan hidup dalam tubuh ruhani yang langgeng.
Lalu mulai belajar menghidupkan sholat yang langgeng/Daim dalan ruhani.
Hanya IBADAH RUH/IBADAH ISI lah yang bs bersifat kekal, selama-lamanya.
Maka carilah jalan "pelepasan" dan mengenal hidup dalam tubuh ruhani.

Cara nya bagai mana utk mencapai nya (ibadah ruh)
BalasHapusCara nya bagai mana utk mencapai nya (ibadah ruh)
BalasHapus