Tidak
ada satupun "kejadian", walau itu hal kecil, walau hanya sebesar
zarrah, yang terjadi secara kebetulan. Semuanya tidak ada yang
kebetulan, telah ada dalam rancanganNYA. Seorang salik mesti teliti,
jangan menganggap enteng atau remeh meski perkara2 kejadian yang
nampaknya sepele. Seorang salik harus selalu memperhatikan dengan
seksama, sebab semua kejadian2 itu adalah "pesan2" TUHANMU kepadamu.
Engkau yang senantiasa menganggap remeh banyak hal adalah orang yang
tiada waskita dan waspada, ibarat permainan bola engkau memiliki banyak
sekali celah, dan celah2 itu dalam hidupmu akan dipenuhi iblis.
Fungsimu adalah untuk memahami setiap pesan2 itu, menangkap sari
patinya, gelora api semangatnya dari pesan TUHANmu, lalu meneguk setiap
tetesan ilham dariNYA. Sekali lagi ingatlah, jangan pernah gegabah dan
anggap remeh sesuatu yang nampak sepele itu. Setiap kejadian adalah
pesan dariNYA, dan ada maknawiah yang super tinggi menyertainya. Hanya
difahami oleh orang2 yang memang waskita dan waspada.
Dari
kebiasaanmu yang ceroboh dan menganggap sepele banyak hal, bisa
dipastikan engkau akan kandas dalam perjalananmu. Dan mereka2 yang
kandas tak akan mencapai tempat tinggi, melainkan hanya hayalan mereka
saja, sebenarnyalah diputar-putar oleh setan dan angan2 mereka sendiri
tentang alam tinggi.
Ikhlas
adalah perihal yang abstrak sebab ikhlas yg sesungguhnya bukanlah
"merasa ikhlas" itu, sebagaimana difahami orang umum, namun ikhlas
adalah rahasia TUHAN, yg hanya diberikanNYA kepada kekasih2NYA saja.
Ikhlas bukanlah ketika engkau "merasa ikhlas" dalam perbuatanmu, namun ketika engkau sudah tiada merasa berbuat barang sedikitpun kebajikan sdng engkau adalah org yg sebenarnya telah banyak berbuat kebajikan. Ikhlas umpama debu ditelapak tangan yg dihembus angin, tiada membekas sama sekali, kosong mlompong.
"Lupakanlah semua amal kebaikanmu, sebab engkau tetap saja tidak ikhlas ketika masih mengingatnya, anggap saja sedang kencing, selesai berbuat tak pernah dikenang2 lagi"
Ikhlas bukanlah ketika engkau "merasa ikhlas" dalam perbuatanmu, namun ketika engkau sudah tiada merasa berbuat barang sedikitpun kebajikan sdng engkau adalah org yg sebenarnya telah banyak berbuat kebajikan. Ikhlas umpama debu ditelapak tangan yg dihembus angin, tiada membekas sama sekali, kosong mlompong.
"Lupakanlah semua amal kebaikanmu, sebab engkau tetap saja tidak ikhlas ketika masih mengingatnya, anggap saja sedang kencing, selesai berbuat tak pernah dikenang2 lagi"
