Dunia
"dalem" adalah dunia "esensi", dunia isi dan saripatinya..... dalam
dunia esensi, yang ditangkap adalah esensi dari segala sesuatu itu......
Ketika sudah semakin faham esensi, maka sudah tidak terkandaskan wujud
rupa lagi..... tidak masalah apa wujud rupanya, tapi yang dipahami
adalah apa esensinya.....
Tentang malaikat misalnya..... sebagai
umpama malaikat maut, tdk perlu lagi ditanya berapa sayapnya, seperti
apa bentuknya, jika sudah kenal esensi dari maut itu sendiri
,
bisa jadi berupa sebongkah batu yang menimpa kepala, lalu orang itu
mati.... maka malaikat maut bisa saja berupa bongkahan batu tersebut
bagi seseorang..... bisa berupa apa saja, namun esensinya sama, yaitu
maut, atau membuat jadi "mati".....
Seperti itulah "dunia esensi" itu.....
Lalu kalau sudah paham, tidak perlu lagi bertanya tentang surga, neraka, malaikat, sidratul muntaha, arsy..... dsb.....
Sekali lagi, "jangan memburu wujud rupa, namun kenalilah esensinya".....
Dalam "dunia luar", segala sesuatu dikenali dengan identifikasi "wujud
rupa"..... dalam dunia dalam, segala sesuatu diidentifikasi dengan
esensinya......
Dengan memahami hal tersebut, jangan heran kalau mungkar nakir misalnya berwujud cacing tanah.....